Booking Segera Seatnya sebelum Kehabisan.... !
Umroh Promo MIW by Saudia tanpa transit
Umroh Reguler Hotel *5, 22,5juta
TRAVEL UMROH RESMI BERIZIN KEMENAG RI
UMROH LANDING MADINAH
Call Center: 0811 204 1100
0811 204 5566 | 0817 221100
0811 204 1100 | 0878 98 221100

Travel Umroh Bandung | Umroh Bandung 2018 / 2019

Mendadak Haji

Tuesday, August 14th 2018.

Jabal Rahmah

 

Setiap kali memenuhi undangan walimatus safar atau syukuran haji yang diadakan saudara, teman, maupun tetangga sekitar rumah, hati saya selalu bertanya-tanya “kapan saya bisa menunaikan ibadah haji?” Ada rasa perih di dada memikirkan hal itu. Mengingat, suami saya sedang mengalami masalah dalam pekerjaannya. Beberapa kali keluar dari pekerjaan karena berbagai alasan, bahkan, pernah beberapa bulan lamanya tidak bekerja, sehingga keuangan keluarga saya sangat minim. Apalagi, dua orang anak laki-laki kami yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan taman kanak-kanak sedang memasuki masa pertumbuhan, masih sangat membutuhkan gizi yang baik serta pendidikan dasar yang harus memadai. Bukan hanya itu, kamipun belum memiliki rumah sendiri. Itulah yang kemudian saya dan suami masih pontang-panting mencari uang. Sayangnya, saya tidak bekerja tetap, hanya sekali-kali dapat uang dari hobi saya memasak. Tetangga dan kerabat sering memesan makanan dari saya. Lumayan, bisa menjadi tambahan keuangan keluarga.

Tahun 2009, saya tergerak untuk mengurusi sebuah panti anak-anak tuna netra yang fakir. Awalnya, diajak teman untuk hanya sekedar memberikan donasi terhadap sekitar 30 anak berusia belasan tahun di sebuah yayasan bernama Wiyata Mandiri. Melihat kondisi tempat tinggal yang memprihatinkan, kebutuhan sandang dan pangan yang serba kekurangan, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan beberapa orang pengurus, untuk mencari donasi. Saya ajukan permohonan kepada pemerintah daerah dan pusat, dan mencari para dermawan. Alhamdulillah, terkumpul uang untuk membeli tempat tidur, karena kebanyakan mereka tidur beralaskan tikar. Sisa dana yang ada saya sisihkan untuk menambah lauk pauk teman makan mereka sehari-hari, yang selama ini sangat sederhana. Kadang kala mereka hanya makan dengan nasi dan kerupuk.

Sejak menjadi pengurus panti, saya mendapat keleluasaan rezeki. Suami mendapat pekerjaan dengan penghasilan yang layak, sehingga bisa membeli rumah. Dan, rezeki dari jalan tak disangka-sangka juga seperti mengalir tak henti kepada keluarga saya, sampai-sampai saya menangis bersyukur kepada-Nya. Inikah pahala dari upaya saya mengurusi anak-anak fakir miskin tuna netra? Saya berbisik dalam hati. Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya kamu diberi kemenangan dan dilimpahkan rizki karena adanya orang-orang lemah di antara kalian”. Demikian Hadist riwayat Bukhari, Tirmidzi dan Abu Daud.

Rezeki yang saya dapatkan, bisa jadi berasal dari doa-doa tulus anak-anak panti tuna netra yang saya asuh. Doa-doa dari mereka yang tak berharta dan tak berdaya itu telah mengetuk pintu langit, menjatuhkan rezeki bagi saya dan keluarga. Subhanallah.

 

Kejutan dan Tantangan Jelang Berangkat Haji

Tahun 2011, dengan mengucapkan bismillah, saya dan suami mendaftar haji. Saat itu, biaya ibadah haji sebesar 34 juta rupiah. Uang tabungan yang sama miliki hanya bisa memenuhi tabungan awal haji tersebut. Bermodalkan keyakinan dan doa, saya dan suami berharap bisa berangkat haji sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh pemerintah saat itu, yaitu tahun 2018. Menurut pikiran saya dan suami, dalam waktu sekitar tujun tahun kami bisa mengumpulkan uang untuk melunasi semua biaya.

Beberapa tahun kemudian, saat anak-anak mulai berkembang, kebutuhan rumah tangga semakin tinggi, tabungan haji saya dan suami jarang diisi. Keyakinan bisa berangkat haji sesuai jadwal menjadi semakin menipis dan menipis setiap waktu. Namun, doa-doa tetap kami berdua panjatkan. Bahkan, setiap kali berkumpul bersama anak-anak panti, saya selalu memohon kepada mereka agar bisa melaksanakan ibadah haji bersama suami. Kadang, pertanyaan polos seorang anak panti membuat saya tersenyum. “Ibu, apakah tidak ada lagi keinginan selain berangkat haji?” Saya cuma menjawab tegas, “tidak.” Dan, hati kecil saya juga menjawab sama. Hal yang saya inginkan hanyalah bisa ke Baitullah, bertemu dengan Sang Khalik melalui ibadah thawaf, sa’i, lempar jumrah, dan wukuf di Padang Arafah. Seketika, air mata saya mengalir, rindu untuk segera berada di sana. Namun pertanyaannya, “apakah saya bisa sampai ke sana?”

Entah amalan apa yang saya lakukan, doa siapa yang dikabulkan, dan apa pula hikmah di balik semua ini, suatu hari di tahun 2014, saya mendapat kabar dari pihak bank, tempat saya menyimpan tabungan haji, bahwa saya bisa berangkat haji di tahun itu. Padahal, jadwal berangkat saya dan suami adalah tahun 2018.  Dan, kuota yang tersedia hanya untuk dua orang saja, untuk saya dan suami. Pilihannya ada pada kami, apakah akan diambil atau tidak? Keputusan yang harus kami ambil 3 bulan jelang keberangkatan.

 

Kemudahan-kemudahan Jelang Ibadah Haji

Saya tidak tahu, mendapatkan kabar bisa berangkat haji di tahun 2014 itu apakah harus senang atau sedih. Di satu sisi, banyak orang yang mengeluhkan waiting list yang begitu lama untuk bisa berangkat haji, tetapi saya malah mendapat kesempatan itu hanya menunggu sekitar 3 tahun saja. Namun di sisi lain, saya dan suami tidak punya uang sama sekali untuk melunasi biaya haji. Saya menangis karena tahu kalau kesempatan ini belum tentu datang dua kali, namun saya juga tidak tahu darimana mendapatkan uang untuk melunasi biaya haji, juga bekal selama berada di sana.

Hanya keyakinan dan kepasrahan seorang muslim kepada Rob-Nya. Dua bulan saja jelang waktu yang ditentukan untuk melunasi biaya haji, saya mendapatkan rezeki yang tak terduga. Saya dan suami yang beberapa tahun lamanya tak mampu menjual sebidang tanah milik kerabat, ternyata hari itu laku terjual. Dengan seketika kami mendapat komisi, yang bisa digunakan untuk melunasi biaya haji. Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar.

Masalah-masalah yang muncul kemudian adalah hanya dalam waktu singkat kami harus mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat haji. Manasik yang kami lakukan hanya sekali saja, saat manasik akbar, beberapa minggu sebelum berangkat. Teman-teman sekelompok juga baru kami kenal saat itu, sementara jamaah lainnya sudah saling mengenal dan mempersiapkan segala sesuatunya setahun yang lalu. Bekal uang juga sangat pas-pasan, bahkan kami merasa khawatir tidak mencukupi selama berada di sana. Namun, kami hanya berserah diri pada Allah SWT. Perlengkapan haji yang belum sempat kami beli, bahkan tak yakin bisa kami beli, ternyata diberi oleh tetangga dekat kami. Sehingga, kami tak perlu membeli semua peralatan haji. Masalah passport haji yang seringkali menjadi hambatan, ternyata bisa teratasi. Satu lagi, soal KBIH. Dalam waktu satu bulan jelang keberangkatan, saat kami mencari kemanapun sudah penuh, ternyata, ada satu KBIH yang bersedia menerima kami. Anehnya, jatahnya hanya untuk dua orang saja. Tentu saja, jatahnya cukup untuk saya dan suami.  Luar biasa, inilah bukti sayang Allah kepada saya dan suami, setelah berbagai upaya yang kami lakukan.

Allah SWT berfirman : “Dan milik Allah lah seluruh rahasia langit dan bumi, dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak pernah lengah dari apa yang kamu kerjakan.” Al quran surat Hud 123.

 

Ibadah Haji Penuh Kesan

Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wa ni’mata laka walmulk laa syariika lak

”Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, ni’mat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu”

Air mata mengalir setiap kali mengumandangkan talbiyah. Saya tidak menyangka bisa berada di tanah suci, dengan segala keterbatasan waktu, materi, tenaga, semuanya. Hanya Allah yang membuat semua itu mudah.

Saat berada di tanah suci, banyak sekali kebaikan dan keindahan yang saya dapatkan. Semua rukun haji saya lakukan dengan baik, tidak ada gangguan, bahkan mendapatkan kemudahan-kemudahan. Salah satunya adalah saat lempar jumrah. Banyak cerita yang saya dengar bahwa aktivitas ini membutuhkan usaha yang berlebih, seperti berdesak-desakan, sulit mendapatkan batu, dan banyak sekali yang merasa lemparan batu tidak mengenai tiang. Namun saya dan suami tidak mengalami semua itu. Saat melaksanakan ibadah tersebut, kami tidak harus berdesak-desakan karena saat itu jamaah sangat sedikit yang melaksanakan lempar jumrah. Dengan demikian, saya merasa khusuk melaksanakannya.

Berbekal uang seadanya, saya memutuskan untuk tidak berbelanja. Walaupun hanya sekedar ingin mencicipi makanan unik di sana. Suatu ketika, seorang kerabat jauh, yang belum pernah bertemu sebelumnya di tanah air, mendatangi saya dan suami. Katanya dapat kabar tentang keberadaan saya dan suami. Dia bekerja di sebuah hotel mewah di Madinah. Dan, dia menawarkan saya untuk bisa menginap, sarapan dan makan siang gratis di sana. Tentu saja, saya jadi bisa menikmati makanan dan minuman mewah di Madinah tanpa harus mengeluarkan uang. Alhamdulillah. Ada satu pengalaman menarik yang saya alami. Suatu hari saya melihat kedai ayam Albaik, ayam goreng yang dikenal paling enak di Saudi Arabia. Harganya cukup mahal bagi saya, dan cara mendapatkannya yang sulit, karena antriannya sangat panjang. Akhirnya, saya hanya mengubur keinginan untuk mencicipinya. Namun tak terduga, saat saya kembali ke penginapan, di kamar saya, tepat di atas meja, telah tersedia seporsi ayam goreng yang saya inginkan itu.

Saya orang yang dikelilingi para lansia saat beribadah haji. Saya sering dimintai bantuan menemani mereka ingin ke masjid untuk menjalankan shalat lima waktu, karena jarak antara hotel dan masjid Haram cukup jauh. Dengan senang hati saya menemani mereka. Para lansia juga tak jarang meminta saya menemani ke pusat perbelanjaan. Atau, sengaja meminta saya untuk membelikan ole-ole. Saya mendapat kasih sayang dari mereka. Saya mendapat banyak sekali buah tangan dari para lansia, yang bisa saya simpan sebagai ole-ole.

Kesan yang paling besar yang saya rasakan adalah kesehatan fisik yang saya rasakan saat melaksanakan ibadah haji. Saya memiliki gangguan jantung, sebagai sakit bawaan sejak lahir, sehingga saya harus mengkonsumsi obat secara rutin. Namun, di tanah suci saya tak pernah mengalaminya walaupun pernah lupa mengkonsumsi obat. Bahkan, saya merasa sangat sehat dan kuat melakukan aktivitas apapun.

Setelah melakukan semua wajib dan rukun haji dengan lancar dan aman, tiba saatnya pulang. Ini adalah saat yang paling menyenangkan dan tak terduga. Dengan uang seadanya bahkan serba kekurangan, saya pulang dengan banyak ole-ole yang diberikan oleh orang-orang, yang dikenal, bahkan tak dikenal. Seorang pria Arab yang tak dikenal memberi saya 5 alquran, dengan tulus. Banyak jamaah yang memberi saya uang, makanan, minuman, pakaian, dan oleh-ole lainnya, untuk saya bawa pulang. Walaupun saya menolak, mereka memaksa. Hasilnya, bekal yang saya bawa bukannya berkurang, tapi malah semakin bertambah. Ini pasti buah dari kesabaran, keikhlasan dan tawakal yang saya dan suami lakukan. Karena ibadah haji adalah panggilan dari-Nya, dan kita adalah tamu-Nya, maka Dia-lah yang menjamu tamu-tamu-Nya. Wallahu a’lam bishawab.

(Kisah nyata seorang ibu di Cimahi, diceritakan kembali oleh Fatmasari Ningrum)

 

 

Pusat Bisnis | Kerjasama Usaha & Kemitraan