Booking Segera Seatnya sebelum Kehabisan.... !
Umroh Promo MIW by Saudia tanpa transit
Umroh Reguler Hotel *5, 22,5juta
TRAVEL UMROH RESMI BERIZIN KEMENAG RI
UMROH LANDING MADINAH
Call Center: 0811 204 1100
0811 204 5566 | 0817 221100
0811 204 1100 | 0878 98 221100

Travel Umroh Bandung | Umroh Bandung 2018 / 2019

Umroh Impian

Friday, August 24th 2018.

 

Tawaf, Masjidil Haram

 

“Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wa ni’mata laka walmulk laa syariika lak”

”Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, ni’mat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu”

Entah mengapa, setiap kali mendengar kalimat talbiyah, hati saya selalu bergetar. Tiba-tiba saja saya teringat akan bangunan Kabah, Kota Mekah, dan tentu saja ibadah haji atau umrah. Dalam hati kecil saya, ingin sekali melaksanakan rukun Islam yang terakhir itu. Namun saya tidak berani bermimpi sekalipun, karena tak punya tabungan sepeserpun untuk memenuhi biaya berhaji ataupun umrah. Uang penghasilan saya hanya numpang lewat di buku tabungan. Saat gajihan masuk rekening, akhir bulan ludes tak bersisa dari tabungan

Satu-satu, saudara, teman, berangkat ibadah haji. Ada keinginan dalam diri saya, tapi tak percaya diri bisa melakukannya. Jangankan ibadah haji, melaksanakan ibadah umrah saja saya tidak mungkin. Seorang ustadz menghibur saya yang sempat berkeluh-kesah soal keinginan saya yang dirasa mustahil itu. Katanya, tak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak. Jika saya benar-benar ingin berangkat ke tanah suci,  isilah pikiran dan hati hanya untuk itu, tidak ada yang lain. Salah satu cara, tempelkan gambar Kabah yang besar di kamar, sehingga setiap saat bisa memandangnya, sambil berdoa agar bisa berada di sana. Sayangnya, saya tidak melakukan itu. Ada rasa tidak percaya bahwa cara itu berhasil membuat saya sampai ke tanah suci, sementara penghasilan dari bekerja saja seringkali kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagai anak kost yang harus memenuhi kebutuhan sendiri, terkadang masih harus minta pada orang tua jika sudah kehabisan uang.

 

 

Keinginan Umrah yang besar

Tahun 2011, kakak perempuan saya tiba-tiba berangkat umrah. Saya tahu benar kalau penghasilan kakak juga tidak besar. Bahkan, lebih rendah dari penghasilan saya dalam sebulan. Aneh juga ketika tahu kalau kakak bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menabung. Dalam setahun bisa mengumpulkan uang untuk melaksanakan umrah. Saya ingat kata-katanya saat saya bertanya bagaimana dia bisa melakukannya :

“Ada doanya..”

“Apa itu?” Saya bertanya.

“Allahumma… maksain…”

Dia bicara sambil tertawa. Saya cuma ikut tertawa. Doa yang dia ajarkan itu artinya lebih kepada kita harus berusaha semaksimal mungkin supaya bisa berangkat umrah. Menabunglah semampunya, walaupun hanya seribu rupiah sehari. Begitu katanya. Saya jadi malu hati. Saya pikir-pikir, saya masih mampu makan di café, saya masih bisa nonton bioskop minimal sekali dalam sebulan, dan, saya masih bisa merawat rambut dan muka di salon, walaupun tidak setiap bulan. Jika itu semua bisa saya tabungkan, mungkin saja dalam beberapa tahun bisa terpenuhi biaya untuk melaksanakan umrah. Masalahnya, apakah saya mampu menghilangkan semua kesenangan-kesenangan itu, untuk lebih memprioritaskan pengeluaran hanya di jalan Allah? Seharusnya bisa, jika saya bersungguh-sungguh melakukannya, seperti orang yang sedang berjihad.

Aisyah RA berkata :

“Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?

Rasulullah SAW menjawabnya : 

“Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan didalamnya, yaitu dengan haji dan umroh” 

 HR Ibnu Majah

Menjemput kakak dari ibadah umrah, saya mendapat banyak cerita indah. Tentang rasa yang tak bisa dikisahkan dengan kata-kata saat melihat Kabah. Kata kakak, tak terasa air mata menetes setiap kali melihatnya. Terbayangkan, upaya besar Nabi Ibrahim AS menghancurkan patung-patung yang ada di dalam bangunan Kabah, yang disembah oleh masyarakat Arab saat itu. Tujuannya, agar menyembah Allah SWT.  Dan, betapa berartinya Kabah, karena saat bangunan itu akan dihancurkan, Allah SWT yang langsung melindunginya.

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bagaimana Rabb-mu telah bertindak terhadap tentara gajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka untuk menghancurkan Kabah itu sia-sia. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung, yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu yang berasal dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat”

Alquran Surat Alfil ayat 1-5

Sejak saat itu, saya membulatkan tekad, bagaimanapun caranya, saya harus bisa berangkat umrah, bertemu Allah SWT di rumah-Nya, saat mengunjungi Kabah. Caranya, seperti kata ustadz, saya memajang gambar besar Kabah di dinding kamar saya. Setiap kali memandangnya, saya memohon pada Allah agar sampai di sana. Itu adalah upaya hati. Dan, saya mulai menabung, menyisihkan penghasilan saya. Itu adalah upaya fisik.

 

Masalah Datang silih Berganti

Selama tiga tahun tabungan umrah saya lancar terisi. Kesenangan-kesenangan yang biasa saya lakukan dikurangi, bahkan tidak dilakukan. Keinginan makan di café misalnya, saya ganti dengan memasak sendiri di kamar kost. Walaupun rasanya jauh dengan makanan café, tapi ada kepuasan sendiri memakannya karena masak sendiri. Dengan begitu, kebutuhan dalam sebulan bisa lebih rendah, dan sisa gaji saya bisa disimpan dalam tabungan umrah.

Tahun 2014, tak pernah saya duga, perusahaan tempat saya bekerja mengalami masalah ekonomi. Kepada semua karyawan ditawarkan dua pilihan : mengundurkan diri tanpa pesangon atau tetap bekerja dengan penurunan gaji bahkan berkemungkinan gaji dibayarkan dalam beberapa bulan sekali. Saya memilih mengundurkan diri, kembali ke Bandung, ke rumah orang tua. Setidaknya, di rumah saya masih bisa memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan secara cuma-cuma.

Beberapa bulan lamanya tidak bekerja, dan tidak kunjung mendapatkan pekerjaan lagi setelah melamar pekerjaan ke mana-mana, saya tidak punya penghasilan tetap. Tentu saja, tabungan umrah saya tidak bisa terisi lagi.  Betapa sedihnya, tetapi saya tak bisa berbuat apapun selain berdoa semoga mendapat pertolongan dari Allah SWT.

Tahun-tahun berikutnya, adalah masa-masa kelam dalam hidup saya. Entah mengapa, Allah menguji saya dengan berbagai masalah. Awal tahun 2016, saya harus mendapati kenyataan mengidap tumor yang mengharuskan saya melakukan operasi. Jika tidak, tumor akan terus membesar dalam perut saya dan berkemungkinan mengganggu organ reproduksi dan pencernaan saya. Mau tak mau saya harus melakukan operasi, yang tak pernah saya pikirkan, bahkan termimpikan. Bukan hanya rasa sakit, kondisi tubuh yang lemah, saya juga harus mengeluarkan biaya operasi yang tidak kecil. Tidak sampai di situ saja ujian yang saya hadapi. Di tahun yang sama, dua bulan setelah operasi, bahkan lukanyapun belum kering benar, saya mendapat kabar kalau bapak divonis gangguan jantung. Akibatnya, bapak harus mendapatkan pengobatan intensif dan membutuhkan perhatian yang sungguh-sungguh. Satu-satunya anak yang belum disibukkan dengan keluarga dan bekerja, adalah saya. Saya yang harus mengantar bapak setiap saat berobat ke rumah sakit. Bahkan, seringkali saya mendapati bapak mengalami serangan jantung mendadak sehingga harus masuk ugd.

Sebulan jelang bulan Ramadhan tahun 2016, tiba-tiba ibu juga jatuh sakit. Kakinya bengkak dan sulit berjalan karena terasa nyeri luar biasa. Ibu hanya berada di tempat tidur tak berdaya. Tentu saja, saya yang baru saja pulih dari operasi, harus menjaga ibu dan bapak sekaligus. Kesabaran dan ketelatenan teruji saat itu. Waktu saya lebih banyak habis mengurus orangtua, sehingga tak ada jalan untuk mencari peluang pekerjaan, untuk mendapat penghasilan, untuk mengisi kembali tabungan umrah saya. Pengorbanan yang saya lakukan itu ternyata tidak berbuah manis. Bulan Juni 2016, sepuluh hari di bulan Ramadhan, bapak meninggal dunia setelah mengalami serangan jantung dan tak tertolong. Sedih tak terbendung saat itu. Apalagi, ibu juga masih tergolek sakit di tempat tidur.

Tahun 2017, ujian masih juga menyelubungi hidup saya. Bagaimana tidak, di saat perhatian saya hanya kepada ibu yang masih sakit, yang divonis gangguan jantung pula, tiba-tiba kondisi tubuh saya memburuk lagi. Akibat operasi di perut yang pertama, ada efek kepada organ lainnya dalam tubuh saja. Tanpa diduga, saya juga harus menghadapi keputusan dokter untuk kembali menjalani operasi.  Saya ingat saat itu, operasi dilakukan seminggu sebelum Idul Fitri  Lagi-lagi, bukan hanya rasa sakit, tubuh yang lemah, saya juga harus menanggung biaya operasi yang tidak sedikit. Lama-kelamaan, tabungan umrah saya terkikis untuk pengobatan saya. Saat itu, saya sudah mulai putus asa. Saya mengubur keinginan saya untuk melaksanakan umrah. Bagaimana mungkin, dalam keadaan sakit-sakitan seperti ini, dan tak lagi memiliki tabungan yang memadai, bisa berangkat ke Baitullah?

Tahun 2018, adalah puncak dari seluruh ujian penuh kesedihan yang harus saya alami. Ibu, yang telah menjalani berbagai pengobatan, dan mendapat perhatian sungguh-sungguh dari saya, ternyata harus kalah pula dengan penyakit jantungnya. Bulan Januari, ibu dipanggil Sang Khalik, menyusul Bapak yang telah dipanggil lebih dulu, hanya selang kurang dari 2 tahun. Saat itu hati saya hancur. Hanya kesabaran dan ketakwaan sebagai penolong saya saat itu. Saya hanya berserah diri pada-Nya. Saya tetap berbaik sangka pada Allah SWT. Harapan saya, dibalik ujian-ujian ini, ada kebaikan-kebaikan yang akan Allah berikan kepada saya. Semoga.

Allah SWT berfirman :

“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Alquran surat Al Baqarah ayat 155

 

Indahnya berumroh

Hidup tanpa kedua orang tua, dan belum memiliki pendamping, tentu saja cukup berat bagi saya. Apalagi, saat itu saya seorang pengangguran yang tidak memiliki penghasilan. Saya hanya mengandalkan bantuan kakak-kakak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan perlindungan. Rasanya, sudah habis harapan saya untuk mewujudkan keinginan ke tanah suci. Saya kubur keinginan itu dalam-dalam di pikiran dan hati. Setiap kali mendengar kabar tentang teman, kerabat, kenalan, yang berangkat umrah, pedih sekali hati saya. Bagi saya saat itu, hanya keajaiban yang bisa mengantarkan saya ke Baitullah. Namun, mungkinkah ada?

Di saat keinginan berumrah hanya impian semata, seorang teman kembali mengingatkan keinginan itu. Dia, yang bekerja di sebuah travel umroh-haji itu menawarkan promo biaya umrah. Harga relatif murah dengan fasilitas terbaik. Pelan-pelan, keinginan itu hadir lagi di hati dan pikiran. Namun, tetap ada pertanyaan besar, apakah saya bisa mendapatkannya?

Saya ingat, sebelum meninggal dunia, ibu pernah mendoakan saya agar keinginan berumrah terwujud. Dan, saya kembali ingat dengan kata-kata seorang ustadz beberapa tahun silam, bahwa tak ada yang tak mungkin jika Allah telah berkehendak. Seketika, semangat saya muncul. Saya memutuskan untuk menemui teman saya itu di kantornya. Waktu itu bulan Maret 2018. Dia menawarkan paket perjalanan umrah untuk bulan April. Artinya, hanya satu bulan waktu saya untuk mengumpulkan uang. Sementara, uang tabungan yang tersisa hanya bisa memenuhi uang muka, untuk booking seat. Karena saya tidak tahu bagaimana bisa melunasi semua biaya berumrah, saya mengurungkan niat untuk membayar uang muka. Namun, saya mengikuti sarannya untuk membuat passport. Katanya, passport bisa digunakan kapan saja selama belum kadaluarsa.

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”

Alquran Surat Az Zumar ayat 1

Kesabaran saya membuahkan hasil. Dua minggu sebelum jadwal keberangkatan umrah tersebut, saya mendapat uang warisan dari almarhuman ibu dan almarhum bapak. Alhamdulillah, jumlahnya cukup untuk memenuhi biaya umrah tersebut. Dengan kebahagiaan luar biasa, saya memutuskan untuk segera mendaftarkan diri berangkat umrah di bulan April tersebut. Sayangnya, keinginan saya masih belum terwujud, karena ternyata kuotanya sudah penuh. Tak disangka, sebulan lalu saat saya datang ke kantor tersebut, kuotanya masih tersisa puluhan orang. Tetapi, hanya dalam hitungan hari, sudah penuh. Lagi-lagi saya merasa kecewa. Ya Allah, saya hanya ingin beribadah umrah, bukan yang lain. Saya menitikkan air mata. Apakah saya bukan orang-orang terpilih yang Allah undang ke Baitullah? Begitu besarkah dosa yang telah saya lakukan selama hidup saya ini?

Saya mencoba menenangkan diri. Lagi, berusaha berprasangka baik kepada-Nya. Saya sudah mendapatkan dana untuk berumrah, sekarang masalahnya tinggal waktu saja. Mengapa saya harus bersedih, bukankah masih ada bulan lainnya untuk melaksanakan umrah? Bulan Mei? Bulan Juli? Dan bulan-bulan lainnya. Jika memang begitu, doa yang harus saya panjatkan selanjutnya adalah diberi panjang umur hingga sampai waktunya berumrah. Hanya itu. Saya tersenyum, mengakui kelemahan diri, sebagai manusia yang kerapkali berburuk sangka dengan keputusan Allah. Subhanallah, sejam setelah kepasrahan diri yang saya lakukan, terjadi sebuah keajaiban. Saya mendapatkan kabar dari teman saya itu, bahwa seorang jamaah mengundurkan diri. Artinya, saya bisa menggunakannya untuk berangkat umrah di bulan April, sesuai keinginan dan niat saya. Ya Allah, maafkan atas segala keluh kesah dan pikiran buruk kepada-Mu. Sungguh, saya hanyalah manusia yang bergelimang dosa. Semoga Engkau ampuni dosa-dosa saya, aamiin.

Bulan April 2018, saya berangkat umrah bersama Madinah Iman Wisata, sebuah biro perjalanan haji dan umrah yang terpercaya di Indonesia. Saya bisa berumrah dengan harga promosi yang relatif murah, tetapi fasilitas luar biasa. Saya menginap di hotel bintang 4 dan pulang-pergi menggunakan pesawat dari maskapai penerbangan berkelas. Saat berada di sana, saya mendapatkan pengalaman-pengalaman religi yang mengharukan. Saya bisa melaksanakan shalat dengan kusyuk di Raudah-Madinah. Saat di Mekah, saya bisa memeluk dan mencium Kabah, bahkan bisa mencium hajar aswad seraya memanjatkan doa. Sungguh, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Alhamdulillah, impian berumrah terwujud juga walaupun harus melalui ujian demi ujian yang menguji kesabaran serta keimanan terlebih dahulu. Hanya keyakinan kepada Allah saja yang bisa menolang manusia dari keputusasaan dan keterpurukan hidup.  Allah SWT berfirman :

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”  

Alquran surat Al Insyirah ayat 5-6

(Kisah nyata seorang akhwat, diceritakan kembali oleh Fatmasari Ningrum)

 

Pusat Bisnis | Kerjasama Usaha & Kemitraan